Wednesday , 18 October 2017
Home / News / Prediksi dan Harapan eSports Indonesia di 2017
Because Winning is Everything

Prediksi dan Harapan eSports Indonesia di 2017

2016 sudah hampir berakhir dan 2017 sudah di ambang pintu. Karena itu, saya ingin mencari tahu bagaimana pendapat dari sejumlah pelaku bisnis yang berkecimpung di eSports tentang pandangan mereka di tahun 2016 dan prediksi mereka di 2017.

3 pelaku bisnis yang saya hubungi kali ini adalah NVIDIA sebagai salah satu pemain tertua dan terbesar di industri game dan hardware yang mulai menitikberatkan perhatiannya ke eSports sejak tahun 2016, ASUS yang merupakan produsen hardware pertama yang menawarkan brand gaming, ROG, sejak tahun 2006, dan sudah lama berkecimpung di industri game dan eSports tanah air, dan Garena sebagai salah satu publisher game internasional dan penyelenggara yang masih setia dengan eSports dan PC gaming (di saat kebanyakan publisher game lain di Indonesia hijrah ke mobile gaming).

nvidia-logo

Andrew Tobias, Community Manager NVIDIA Indonesia, yang saya temui di acara peluncuran ASUS ROG GL 702 dan GL553, 8 Desember 2016 lalu, mengatakan, dari sisi industri sebenarnya sudah semakin banyak vendor yang mulai berkecimpung di eSports, tidak hanya di tingkatan nasional tetapi juga di tingkatan internasional di tahun 2016.

Misalnya saja NVIDIA sendiri juga sudah mulai memberikan dukungan untuk kompetisi-kompetisi ataupun tim-tim lokal yang berprestasi. NVIDIA juga sudah menjalankan 2 program besar untuk meramaikan kancah eSports dalam negeri dengan GEXT dan GeForce iCafe.

16_nv_icafe_lighthouse_1200x628_og_img

Namun demikian, menurutnya, kekurangannya sepertinya datang dari para gamer profesional alias atlit eSports-nya yang terlihat masih sangat minim komitmennya.

Ia sebenarnya juga bertanya-tanya, pemain Indonesia sebenarnya juga punya skill namun entah mengapa prestasinya masih sangat minim. “Tanda tanya besarnya di sana… Kenapa?” Tambahnya.

Permasalahan jam terbang para gamer profesional ini sebenarnya juga tanggung jawab siapa?

Mungkin, ieSPA, sebagai organisasi yang sudah matang dan punya orang-orang yang berpengalaman bisa mulai memberikan pelatihan attitude, mental, dan jam terbang agar gamer profesional Indonesia bisa lebih banyak mendulang prestasi.

Andrew juga menambahkan bahwa tim-tim besar Indonesia yang sudah punya banyak prestasi seakan menurun performanya di 2016, misalnya TEAMnxl>…(Dalam hati saya, Ouch… kawkawkawk)

img_1532

“Mungkin permasalahannya ada di regenerasi pemain juga yang belum berjalan dengan baik,” katanya. Pemain-pemain lama yang sudah seharusnya ‘gantung mouse’ belum dapat menelurkan pemain-pemain baru yang matang.

Program GEXT dari NVIDIA tadi juga sebenarnya memiliki tujuan utama di aspek regenerasi, yakni mencari pemain-pemain muda berbakat. Di sini, pemain-pemain lama sebenarnya bisa ikut membantu pemain-pemain baru untuk masuk ke arena gaming profesional.

gext-geforce-esports-xtreme-tournament-dota-2-cover

Lalu bagaimana dengan prediksinya tentang kancah eSports dalam negeri di 2017?

Andrew mengatakan hal ini sebenarnya akan sangat bergantung pada banyak pihak. Esports Indonesia bisa berkembang jika banyak pihak bekerjasama dengan baik, seperti gaming organizer, investor, dan juga player.

Di sisi investor / vendor, NVIDIA akan terus bergelut di kancah eSports Indonesia di tahun 2017 dan harapannya NVIDIA dapat memancing ketertarikan para pelaku industri lainnya untuk ikut berkecimpung di sini.

Dari sisi player, Andrew berharap bahwa tim-tim gaming profesional dapat memperbaiki permasalahan internal yang terjadi. Sedangkan dari sisi ieSPA, ia ingin melihat fokus organisasi ini kemana nantinya, apakah akan fokus ke player atau masih di audiensi (sebagai EO) saja.

asus-rog

Edo Jonathan Chandra, Product Marketing Specialist ASUS ROG Notebook & Desktop for Indonesia, yang saya temui di kesempatan yang sama mengatakan industri eSports Indonesia sebenarnya masih dalam tahap awal pertumbuhan sekarang ini.

Perkembangan eSports Indonesia di tahun-tahun sebelumnya sebenarnya sudah cukup baik. Point Blank, Counter Strike Online dari Megaxus, ataupun CrossFire dari Lyto mulai meramaikan kompetisi lokal sejak tahun 2010. Dota 2 juga mulai booming di Indonesia di 2014-2015.

CSGO sendiri, di Indonesia, juga tumbuh berkat TEAMnxl> karena sudah berani pindah di saat pemain-pemain veteran Counter Strike susah move-on. “Salut untuk Richard Permana dengan perjuangannya,” kata Edo.

frgd

ASUS ROG sendiri sudah kembali berinvestasi di eSports dengan ROG MASTER untuk kawasan Asia Pasifik. Tahun depan, mereka ingin mengadakan ajang ini dengan skala yang lebih besar, bahkan mungkin mengadakan penyisihan secara offline.

Masalahnya, katanya, banyak brand melihat penyelenggaraan kompetisi ini seperti ‘buang duit‘ karena biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan apa yang dicari.

Kenyataannya, vendor pasti mencari peningkatan angka penjualan. Jadi, perhitungannya akan menjadi apakah budget yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan turnamen dapat memberikan peningkatan angka penjualan yang lebih baik jika dibanding dengan strategi marketing lainnya dengan anggaran yang sama?

esports

Hal ini mungkin terkesan cold business, namun saya pribadi juga setuju dengan hal tersebut. Saya kira Anda cukup dewasa dan realistis untuk melihatnya dari perspektif ini.

Keuntungan penyelenggaraan turnamen ini mungkin memang lebih besar manfaatnya jika ditilik dari segi branding namun sayangnya banyak vendor yang tidak menaruh perhatiannya di sisi ini.

ASUS sendiri sebenarnya merupakan salah satu vendor yang mau berinvestasi besar di sisi branding karena itu mereka masih mau menyelenggarakan turnamen ataupun menjadi sponsor tim-tim gamer profesional.

Edo menambahkan bahwa mungkin ekosistem eSports Indonesia baru akan dewasa dan matang dalam 2-3 tahun mendatang.

garena_new

Lalu bagaimana dengan pendapat Garena?

Melalui email yang saya terima, Garena menjelaskan bahwa, “Menurut kami e-Sports di Indonesia saat ini masih terpusat di kota-kota besar di Indonesia. Masih banyak pemain-pemain berbakat di kota-kota kecil yang belum terjangkau dengan konsep kompetisi yang saat ini ada.”

Karena itulah, Garena berencana mengembangkan konsep-konsep baru yang diharapkan mampu menjangkau lebih banyak pemain di seluruh Indonesia.

Garena juga berharap, sebagai salah satu penyelenggara turnamen eSports profesional bertaraf internasional, eSports Indonesia bisa semakin maju dengan lebih banyak turnamen, lebih banyak partisipan, lebih banyak game yang dipertandingkan, dan lebih banyak bakat dan juara-juara baru yang muncul.

iesf

Akhirnya, jika boleh saya menyumbang opini dan sedikit menarik kesimpulan dari pelaku-pelaku industri besar tadi, masa depan industri eSports itu benar-benar bergantung ke ekosistemnya, yang menyangkut semua pihak, baik itu investor / sponsor, penyelenggara, gamer profesional, dan komunitas sebagai fans eSports.

Tanpa pertumbuhan dan progres yang baik dari semua aspek itu, industri eSports Indonesia mungkin masih tetap akan berjalan lambat atau bahkan mundur.

Saya kira kita juga bisa belajar melihat industri olahraga ‘tradisional’ dari luar, seperti FIFA, NBA, ataupun NFL.

Mereka sudah memiliki ekosistem bisnis yang menguntungkan, pemain-pemain yang penuh komitmen dan berprestasi, penyelenggaraan pertandingan yang mampu mendulang jutaan penonton, dan fans-fans fanatik yang selalu mendukung tim-tim kesayangan mereka.

Apakah kita bisa mencapainya di 2017? Entahlah…

Bagaimana dengan pendapat Anda? Bagaimana prediksi Anda tentang eSports Indonesia di 2017?

Top Up Your Wallet From INDOMOG

Check Also

Official Communication: fLx out, voogy is back!

Rebuilding a whole roster of champion is always extremely difficult. When we set out on …

Official Gaming Notebook:

Official Gaming Peripheral:

Official Online Payment:

Official Gaming Monitor:

Official Gaming Video Card:

Official Gaming Router:

Official PC Gaming Case:

Official Grooming Partner:

Official Gaming Chair:

Official Media Partner:

Official Media Partner:

Official Media Partner:

Official Retailer Partner: