Monday , 24 July 2017
Home / News / eSports Masuk Olimpiade?
Because Winning is Everything

eSports Masuk Olimpiade?

Kompetisi eSports di dunia memang sudah begitu masif. Namun demikian, kompetisi paling masif di eSports sekalipun masih tetap belum sebanding dengan kompetisi olahraga ‘tradisional’, seperti Piala Dunia ataupun Olimpiade.

Demikian juga dengan paradigma eSports sendiri yang masih dianggap remeh oleh sebagian besar kalangan mainstream.

BACA JUGA SEJARAH SINGKAT ESPORTS

Perjuangan untuk mengubah paradigma eSports ini telah menjadi PR panjang bagi para penggiat eSports dunia.

Tahun ini, perjuangan tersebut sudah memasuki babak baru. Bulan Juli 2016 lalu, IeSF (International e-Sports Federation) menggandeng Alibaba, 1 dari 3 perusahaan terkuat asal Tiongkok, dalam usahanya melegitimasi dan mempopulerkan eSports ke khalayak umum.

alibaba

Salah satu agenda dari kerjasama ini adalah mengusahakan agar eSports dapat ikut dipertandingkan dalam ajang olahraga paling akbar di seluruh dunia, alias Olimpiade.

Tentu saja, perjuangan ini masih sangat panjang karena ada sejumlah masalah yang perlu diselesaikan baik dari sisi internal dan eksternal.

Olimpiade punya aturan main sendiri

International Olympic Committee (IOC) merupakan organisasi yang memiliki kewenangan penuh mengatur Olimpiade dan mereka juga memiliki aturan main sendiri yang harus dipenuhi sebelum satu cabang olahraga dapat dipertandingkan di dalam Olimpiade.

ioc

Misalnya, IOC mengharuskan sebuah cabang olahraga harus dimainkan secara masif di seluruh dunia. Esports mungkin memang sudah dapat memenuhi aturan ini – ada 22 negara yang mengirimkan wakilnya di Dota 2 The International.

IeSF sendiri sudah mengklaim memiliki 47 negara yang menjadi anggota. Namun demikian, UK, Jerman, dan US masih belum ada dalam daftar tersebut – dan tiga negara tersebut merupakan kriteria wajib yang ditetapkan oleh komite olimpiade.

Paradigma eSports di kalangan olahragawan

7280772_orig

Masih banyak sekali kalangan olahragawan yang menganggap eSports itu tidak dapat dikategorikan ke dalam olahraga karena tidak membutuhkan stamina dan kondisi fisik layaknya olahraga ‘tradisional’.

Faktanya, eSports juga sebenarnya menuntut kondisi fisik yang prima, stamina, kecepatan, dan akurasi tinggi agar dapat berprestasi di kancah internasional.

Well, eSports mungkin memang tidak membutuhkan stamina dan kondisi fisik yang seekstrim olahraga basket ataupun sepak bola, namun bagaimana dengan olahraga panahan, menembak, dan catur yang sudah dilombakan di olimpiade?

Namun demikian, tetap saja, pendapat tersebut tidak akan berarti apapun jika tidak dapat meyakinkan para petinggi organisasi olahraga.

Esports sendiri terdiri dari begitu banyak cabang

csgo_1

Satu hal yang mungkin harus diselesaikan terlebih dahulu di kalangan internal pihak eSports adalah eSports itu banyak sekali ‘cabang’nya.

Selain tiga game eSports terlaris di PC, Dota 2, LoL, dan CS:GO, masih ada pihak dari game-game lain, seperti Street Fighter, Call of Duty, PES, dkk, yang juga sebenarnya memiliki banyak sekali penggemar, yang pasti tidak akan mau kalah dan ingin diikutsertakan.

Faktanya, eSports itu sendiri bukan cabang olahraga kategorinya. FPS, MOBA, Fighting, atau Sports game lah yang lebih pantas disebut sebagai cabang olahraga.

Namun itupun masih belum selesai. Di FPS mungkin memang mudah karena CS:GO jauuuuuuuuuuuuh lebih banyak pemainnya ketimbang yang lain, seperti Call of Duty, Battlefield, Overwatch, atau malah Point Blank.

dota-2

Namun bagaimana dengan MOBA? MOBA punya 2 game yang sama-sama kuat dengan 2 perusahaan pendukung raksasa yang sama-sama masif.

Valve yang punya Dota 2 tentu tidak mau kalah dengan LoL dari Riot (yang di belakangnya ada Tencent, yang juga merupakan 1 dari 3 perusahaan terbesar dari Tiongkok).

Perselisihan antara komunitas dan para petinggi tiap-tiap game tentang mana yang bisa diikutsertakan akan menjadi permasalahan panjang yang tidak mudah diselesaikan.

Manajemen olahraga yang perlu dibenahi

meme-pssi

Jika tadi merupakan permasalahan global, ada juga yang masalah yang mungkin khusus di Indonesia.

Faktanya, atlit-atlit kita yang masuk pelatnas itu juga masih banyak yang sengsara, misalnya seperti masalah keterlambatan gaji.

Tak sedikit juga mantan atlit-atlit kita yang pensiun tanpa ada timbal balik yang layak dari negara, seperti cerita Ellyas Pical yang jadi satpam.

Pemberitaan media pun tidak masif untuk para atlit-atlit kita yang sudah membawa nama harum bangsa – karena isinya lebih penuh dengan politik dan berita artis.

Tanpa melihat Google, seberapa banyak dari Anda yang tahu nama-nama atlit-atlit kita dari angkat besi, panahan, renang, pencak silat, dan cabang-cabang olahraga lainnya?

Jika olahraga ‘tradisional’ saja yang sudah puluhan tahun lebih tua tidak dibenahi, bagaimana dengan nasib para atlit eSports yang jauh lebih baru?

Akhirnya…

lol-esports

Ketika eSports dapat masuk ke ajang olimpiade dan dapat disejajarkan dengan olahraga, tentunya akan sedikit banyak mengubah paradigma banyak orang, namun perjalanan ini masih sangat panjang dan lama… mirip iklan coklat itu.

Plus, masih ada banyak PR yang harus diselesaikan juga di tingkatan nasional tentang manajemen olahraga yang carut marut sekarang ini. Memasukkan eSports ke dalam manajemen tersebut tentu justru akan semakin menambah daftar panjang PR yang harus diselesaikan.

Bagaimana dengan pendapat Anda? Apakah Anda setuju eSports dimasukkan ke kategori olahraga dan dipertandingkan dalam olimpiade?

Top Up Your Wallet From INDOMOG

Check Also

Official Communication: New CS:GO Roster May 2017

  Moments ago, we have said that we will release our new CS:GO roster, which …

Official Gaming Notebook:

Official Gaming Peripheral:

Official Online Payment:

Official Gaming Monitor:

Official Gaming Video Card:

Official Gaming Router:

Official PC Gaming Case:

Official Grooming Partner:

Official Gaming Chair:

Official Media Partner:

Official Media Partner:

Official Media Partner:

Official Retailer Partner: