Monday , 24 July 2017
Home / News / Diskriminasi Gamer Perempuan di ajang eSports Indonesia?
Because Winning is Everything

Diskriminasi Gamer Perempuan di ajang eSports Indonesia?

Tahun 2016 ini sepertinya tambah banyak saja gamer girls yang muncul di jejaring sosial ataupun situs video streaming.

Namun demikian, sebelum kita masuk lebih jauh, saya kira perlu dibedakan juga definisi antara influencer / brand ambasador dengan gamer profesional.

Tidak semua brand ambasador itu gamer profesional – karena memang tujuan mereka bukanlah mencari prestasi – meski mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai gamer girls.

Namun sebaliknya, sekarang ini hampir semua gamer profesional itu pasti jadi brand ambasador karena memang membutuhkan modal untuk bisa terus latihan.

Nah gamer perempuan yang ingin saya bahas di sini adalah yang gamer profesional tadi, bukan yang sekedar brand ambasador / influencer – yang seperti itu mungkin lebih pas dibahas di media bisnis – bukan media eSports.

_92466984_teamsecretwalkstill_1-3-2

Jadi, beberapa minggu lalu, BBC merilis sebuah artikel yang berjudul  100 Women 2016: The women challenging sexism in e-sports. Saya tidak tahu betul di UK sana seperti apa, karena memang saya tidak tinggal di sana.

Namun mungkin yang lebih menarik untuk dibahas adalah bagaimana dengan di Indonesia? Apakah benar ada diskriminasi terhadap gamer perempuan?

Saya telah mengumpulkan beberapa jawaban dari beberapa pihak. Dari gamer cowok, tentu saja, karena ini namanya teamnxl.com, saya meminta pendapat dari dedengkot-nya, Richard Permana. Sebagai perwakilan dari gamer cewek, saya meminta komentar dari Female Fighter, sebagai salah satu tim gamer perempuan paling berprestasi di Indonesia.

Terakhir, tidak adil rasanya jika kita juga tidak meminta pandangan dari publisher game, dalam hal ini Garena, sebagai salah satu publisher dan juga penyelenggara yang aktif dalam mengadakan event-event eSports di Indonesia, plus segelintir dari penyelenggara turnamen khusus wanita.

Selain itu, saya kira publisher dan penyelenggara juga bisa lebih jernih dan adil menilai persoalan ini karena mereka lah yang memiliki akses terhadap data peserta kompetisi ataupun pemain.

frgd_1

Bagi Richard Permana, alias frgd, ia merasa diskriminasi masih ada di komunitas gamer cowok. Pasalnya, komunitas ini masih cenderung menganggap gamer perempuan hanyalah pemanis ataupun influencer – alias masih belum di level gamer profesional, seperti yang saya jelaskan di awal artikel ini.

Namun demikian, sebenarnya peraturan-peraturan kompetisi besar kelas internasional juga tidak ada yang melarang jenis kelamin tertentu untuk mengikuti pertandingan. Gamer perempuan sebenarnya diperbolehkan untuk mengikuti kompetisi yang mayoritas pesertanya laki-laki.

Richard Permana juga menambahkan bahwa kompetisi-kompetisi khusus perempuan, seperti PBLC (Point Blank Ladies Championship) itu baik sekali untuk membantu mengatasi diskriminasi tadi.

Sayangnya, tambah Richard, “tapi itupun jarang. Masa setahun sekali. Duit kecil. Kasihan sekali gamer-gamer cewek yang benar-benar ingin menuju ke level profesional.”

gaby-jenova

Sedangkan dari sisi gamer perempuan, Gaby Jenova, Leader-nya Female Fighter, memberikan komentarnya via email yang saya terima.

Menurutnya, “diskriminasi wanita di dunia eSports itu pasti ada. Jelas, karena tidak hanya di eSports saja wanita pasti didiskriminasi.”

Ia juga menambahkan beberapa contoh diskriminasi wanita di dalam eSports, seperti kurangnya kompetisi wanita, dan pandangan sejumlah pemain yang kurang senang bermain bersama gamer perempuan karena dianggap sebagai beban.

Lalu bagaimana dengan kompetisi khusus wanita?

Gaby menjelaskan, “Kompetisi game khusus wanita saya pikir cukup fair ya.. Kalo dibilang tidak sepadan dengan gamer pria ya bisa dikatakan juga, sepertinya memang agak susah untuk menyeimbangkan skill wanita dengan pria…”

Namun demikian, tambahnya, “tetapi bukan berarti wanita tidak bisa, (karena) ada beberapa wanita yang bahkan skillnya jauh melampaui pria. Kompetisi game khusus wanita merupakan ajang yang sangat bergengsi, disamping karena sifat wanita yang selalu ingin terlihat menonjol… Ini merupakan ajang yang sangat penting untuk wanita. Jadi, wanita sendiri pun sangat senang untuk mengikuti kompetisi khusus.”

garena_new

Bagaimana dengan pendapat Garena sebagai salah satu publisher yang masih konsisten di eSports dan PC Gaming?

Pertanyaannya yang saya berikan sama persis dengan yang saya tanyakan kedua gamer tadi. Menurut Garena, yang saya hubungi melalui email, diskriminasi mungkin belum terlihat. Namun, memang ada stereotype di masyarakat bahwa game online dan eSports itu lebih cocok untuk kaum laki-laki.

“Ini yang menurut kami kurang tepat, karena game online dirancang tanpa melihat adanya perbedaan gender. Malahan, dibandingkan dengan sports dimana kemampuan fisik menjadi tolak ukur, kesetaraan antara gender di e-sports lebih flat, seimbang, sehingga besar kemungkinan gamer perempuan untuk menyaingi gamer laki-laki dalam segi kemampuan,” tambah mereka.

Garena juga melihat ada perubahan di beberapa turnamen Point Blank terakhir dimana sejumlah gamer perempuan membentuk tim bersama dengan teman-temannya yang laki-laki. Garena berharap trend ini akan terus meningkat di kemudian hari.

pblc

Lalu bagaimana dengan Point Blank Ladies Championship (PBLC)? Sebenarnya apa sih tujuannya Garena mengadakan turnamen ini?

Bagi mereka, tujuan utama PBLC adalah memberikan wadah bagi para gamer perempuan untuk menunjukkan kemampuannya. Namun mereka juga berharap bahwa turnamen ini bukanlah tujuan akhir dari gamer perempuan.

Turnamen ini hanyalah sebagai langkah awal saja untuk membuat para wanita berani terjun ke dunia eSports sehingga pada akhirnya mereka dapat bertanding di ajang yang sama dengan para gamer laki-laki.

Akhirnya, sebelum artikel ini jadi terlalu panjang dan kita semua tertidur lelap, saya kira semuanya setuju bahwa memang ada “stereotype” – istilah yang mungkin memang lebih tepat digunakan – di komunitas awam ataupun bahkan komunitas gamer sendiri yang mengatakan bahwa eSports itu milik kaum adam.

gamer-girl

Sayangnya, menurut saya pribadi, stereotype ini tidak akan cepat berubah jika memang tidak banyak gamer-gamer perempuan yang mampu menunjukkan prestasinya.

Pasalnya, perjuangan feminisme di ranah luar eSports itu juga sebenarnya sukses berkat wanita-wanita tangguh yang bisa menggantikan posisi-posisi yang sebelumnya ditempati oleh pria dan bahkan dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik.

So? Jika Anda adalah salah satu dari gamer perempuan yang memang bertujuan untuk meraih prestasi, saya kira kuncinya juga sama dengan gamer-gamer cowok: berlatihlah sepenuh hati dan tenaga – tunjukkan pada dunia bahwa Anda memang layak jadi juara.

Top Up Your Wallet From INDOMOG

Check Also

Official Communication: New CS:GO Roster May 2017

  Moments ago, we have said that we will release our new CS:GO roster, which …

Official Gaming Notebook:

Official Gaming Peripheral:

Official Online Payment:

Official Gaming Monitor:

Official Gaming Video Card:

Official Gaming Router:

Official PC Gaming Case:

Official Grooming Partner:

Official Gaming Chair:

Official Media Partner:

Official Media Partner:

Official Media Partner:

Official Retailer Partner: