was successfully added to your cart.
PES

DONI TYB JADI WAKIL INDONESIA JUARA 2 SE-ASIA DI IESF WORLD CHAMPIONSHIP

By 6 November 2020 No Comments

7 player yang bertanding mewakili Indonesia pada babak kualifikasi se-Asia Tenggara IESF World Championship 2020. Dota 2 sebanyak 5 atlet, Tekken 7 sebanyak 1 atlet dan PES diwakili oleh Doni TYB (tengah depan).

The Breeze, NXL Esports Center- Doni TYB berhasil mewakili Indonesia di babak final se-Asia Tenggara dalam turnamen IESF Esports World Championship, cabang e-football PES. Dalam 4 kali pertandingan, Doni berhasil memenangkan 3 kali pertandingan melawan perwakilian dari Filiphina, Thailand dan Myanmar. Namun sayangnya ia belum berhasil mengalahkan perwakilan dari Vietnam,  Le Tam Figo, sehingga Doni harus puas berada di peringkat kedua dalam babak final Asia Tenggara dan merelakan slot untuk melaju ke babak final dunia yang akan berlangsung di Eilat, Israel. 

Kemarin tepatnya pada 27 Oktober, Doni TYB baru saja mengikuti babak kualifikasi IESF World Championship se-Asia Tenggara.

“Sebenernya yang udah menang di babak kualifikasi nasional secara otomatis ke Eilat, Israel, tapi karena ada Corona, dikualifikasi per-regionalnya, jadi dipangkas jadi 16 negara”, jelas Doni.

Dari babak kualifikasi regional Asia Tenggara ini, dipilih satu pemenang yang akan terbang ke Israel untuk bertanding di babak final dunia yang akan diadakan pada 6 Desember mendatang.

Doni TYB menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia di cabang e-football PES, ia bertanding melawan 4 negara yakni Thailand, Filipina, Myanmar dan Vietnam. Dari total 4 pertandingan, Doni TYB berhasil memenangkan 3 pertandingan, menumbangkan Thailand, Filipina dan Myanmar. Namun sayangnya Doni belum berhasil mengalahkan lawan dari Vietnam, Le Tam Vigo di babak final se-Asia Tenggara kemarin dengan skor akhir 0-3. Dengan ini Doni secara otomatis berada di posisi Runner-Up, dengan total 9 poin, 3 kemenangan dan 1 kali kalah. Ia pun juga harus merelakan 1 tiket ke babak final dunia di Eilat, Israel ke tangan Le Tam Vigo.

Dari keempat negara tersebut, Doni memang menganggap, pertandingan melawan Vietnam merupakan yang terberat. Vietnam menurut Doni memang merupakan lawan terberat di Asia Tenggara. Doni menambahkan, Le Tam Vigo sendiri merupakan player legend di Vietnam dan kemarin adalah pertemuan pertamanya melawan legend PES Vietnam tersebut. pada saat bertanding melawan Le Tam, Doni mengaku benar-benar harus memutar otak dan sempat mengganti strategi di tengah permainan.

Menurutnya, pertandingan melawan Vietnam kemarin memang sudah salah dari match pertama. Pada match pertama, Doni TYB sempat unggul, namun pada menit-menit terakhir Le Tam menyamakan kedudukan dan akhirnya Le Tam berhasil memenangkan match pertama di extra time. Kekalahan di detik-detik terakhir match pertama tersebut pada akhirnya membuat Doni mulai merasa mental breakdown dan hal tersebut berimbas pada match kedua dan ketiga.

“Iya sih kepikiran sih, kan seharusnya match pertama menang, eh bisa-bisanya padahal waktu itu bola ditendang ke tengah lapangan mungkin abis, tapi bisa-bisanya dia dapet gol untuk penyeimbang dan di extra time dia menang, gitu mungkin sedikit kepikiran terus lawan pun percaya diri kan karena sudah menang mengantongi satu kemenangan kan dan aku kepikiran mungkin di situlah jadi kalah dan seterusnya. Tapi kalau yang menang di match pertama mungkin beda cerita, mungkin dia yang tertekan, mungkin aku yang tenang mainnya mungkin gitu sih”, ujar Doni.

Di samping memang belum rejeki, Doni TYB juga mengaku, pemilihan tim Bayern Munchen ketimbang di babak finak kemarin juga merupakan salah satu alasan kekalahannya. Doni yang biasanya menggunakan Juventus, pada babak final melawan Vietnam kemarin menggunakan tim Bayern Munchen, padahal menurut Doni, tim yang sering ia gunakan di setiap turnamen baik online maupun offline adalah Juventus. Hal ini membuat Doni harus dapat beradaptasi secepat mungkin. Ia pun baru berlatih menggunakan Bayern Munchen sehari sebelum event.

“Cuman kendalanya sih, sebenernya ga bisa jadi alasan, emang bukan rejekinya, jadi sebenernya yang sering saya pakai itu teamnya Juventus tapi kemarin itu lawan Vietnam saya pake Bayern Munchen, kalau kalau online ini kan Juventus kondisinya C, jadi kalau main itu banyak yang cidera, padahal yang sering pake baik turnamen online maupun offline tuh Juventus jadi kemarin itu mau gamau saya harus pake Bayern Munchen nyari aman biar sehat semua pemainnya dan kemarin itu sama Vietnam itu salah di pertandingan pertama sih”, jelasnya.

Sebelum itu, Doni harus melewati serangkaian babak kualifikasi di Indonesia melawan 64 peserta dari berbagai daerah. Turnamen ini melibatkan 26 IESPA provinsi di seluruh daerah di Indonesia dan Doni TYB terpilih menjadi perwakilan dari IESPA provinsi Lampung, ia secara otomatis dipilih oleh IESPA mengingat ia sudah dikenal sebagai pro-player NXL dan sudah pernah menjuarai turnamen Piala Presiden 2020 kemarin.

“Jadi awalnya itu kualifikasi dulu tiap daerah di provinsi tuh punya IESPA masing-masing kan terus mereka (peserta) ada yang dikualifikasi ada juga yang ditunjuk langsung, memang sudah ada jadi player pro kan, nah mereka yang belum ada (pro player) melakukan kualifikasi,  terus dari setiap daerah terpilihlah 2 orang untuk wakil setiap provinsi”, jelasnya.

Secara nasional, pada babak final kualifikasi di Indonesia bulan februari kemarin, Doni berhasil menyabet posisi pertama melawan Rizal ‘Ivander’ yang juga merupakan mantan lawannya di turnamen Final Piala Presiden Regional Barat. Doni unggul dengan skor 4-2. Sehingga dari kemenangan tersebut, secara otomatis membuatnya memiliki tiket menuju ke babak kualifikasi se-Asia Tenggara, mewakili Indonesia di cabang e-football  PES dalam IESF Esports World Championship 2020.

Selain bertanding dengan Rizal ‘Ivander’, Doni TYB juga sempat bertanding melawan Rizki Faidan. Doni mengaku kemenangannya dari Rizki Faidan juga sebuah keberuntungan karena bisa menang penalti.

Menurut Doni TYB, salah satu kesulitan pada saat menjalani kualifikasi IESPA kemarin adalah terkait permasalahan jaringan. Sistem pertandingan online membuatnya sempat beberapa kali mendapati permasalahan jaringan dari pihak lawan maupun jaringannya, belum lagi stamina pemain lebih tidak stabil saat online dibandingkan offline.

“Karena delay itu jadi ngelagnya itu, yang repotnya fokus gimana caranya jangan sampe kebobolan dan setelah unggul satu gol itu harus bertahan total nyari aman, biasanya sih main saling terbuka ya, jual beli serangan, karena tipikal aku kan seneng yang jual beli serangan gitu tapi karena main online gitu masalah jaringan itu jadi cari amannya bertahan kalau sudah unggul satu, mau ga mau harus seperti itu”, ujarnya.

Dari turnamen ini, Doni belajar untuk lebih dapat mengatur emosi, fokus dan ketenangan, terutama untuk tidak mudah terpancing emosi dari permainan lawan. Doni sendiri mengaku di turnamen kemarin mudah terpancing jika lawan sudah lebih unggul dan hal tersebut membuatnya menjadi bermain terburu-buru.

“Harus lebih tenang sih kedepannya”,ujarnya.

Doni juga menyampaikan banyak terimakasih kepada dukungan Richard Permana selaku CEO NXL Esports Team dan menyampaikan penyesalannya kepada NXL dan Indonesia karena belum bisa melaju ke IESF World Championship di Israel, “Yang pasti terimakasih banyak sama ko Richard atas dukungan dan doanya selama ini dan maaf juga belum bisa memberikan yang terbaik untuk NXL dan Indonesia bisa melaju ke IESF World Championship yang di Israel”.

Dalam waktu dekat ini ia juga akan mengejar turnamen berskala Internasional, PES League yang diadakan langsung oleh Konami dan ia juga tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti turnamen GSB E-Cup yang diadakan di Thailand pada bulan November ini.

 

(NXL).

 

Amanda Puspa

Author Amanda Puspa

More posts by Amanda Puspa

Leave a Reply