was successfully added to your cart.
PES

AKAN IKUTI KUALIFIKASI AESF E-MASTERS CHENGDU 2020, WIDI BERHARAP BISA BAYAR KESALAHAN 2 TAHUN LALU

By 2 January 2020 No Comments

Pada bulan pertama di awal tahun ini, atlet PES NXL, Setia Widianto akan menjalani turnamen AESF E-Masters Chengdu 2020 yang diselenggarakan di Bangkok pada tanggal 7-8 Januari 2020. Turnamen tersebut merupakan kualifikasi untuk Asia Tenggara, di mana tim yang masuk dalam 2 teratas akan lolos untuk lanjut ke babak selanjutnya yang akan diselenggarakan di China dan bertanding dengan pemain dari negara-negara di belahan dunia lain.

Setia Widianto juara 1 kualifikasi PES E-Master Indonesia. Diambil dari akun Instagram resmi @setiawidianto.

“Jadi tanggal 7 tuh drawing, tanggal 8 baru main. Untuk sistem pertandingannya nanti tuh di group dulu, kalo ga salah nanti ada 18 negara di Asia tuh, jadi 4 negara, 4 negara, group a, group b, nanti 2 yang juara group dan runner up, lolos semifinal best of 3, lalu yang lolos final nanti yang bakal ngewakilin untuk Asia Tenggara untuk ke China”, jelasnya.

Menurut Widi, turnamen tersebut memberikan tekanan yang lebih berat dibandingkan dengan turnamen lain yang pernah ia lewati, salah satu alasannya karena kali ini Widi diberi tanggung jawab untuk mewakili Timnas Indonesia. Namun jika dibandingkan dengan Asian Games 2 tahun lalu, Widi mengaku tekanannya tidak seberat Asian Games, karena pada pada saat itu terdapat beberapa pemain yang kuat seperti Sofia yang merupakan pemain kelas dunia dan Hassan Pajani pemain Iran yang kini berkarir di Thailand.

Pemain Vietnam menjadi salah satu lawan yang paling diantisipasi oleh Widi dalam turnamen AESF E-Master tersebut. Menurut Widi, Vietnam merupakan lawan yang kuat, permainan mereka berkualitas dan jam terbang para pemain Vietnam juga tinggi. Namun hal tersebut tidak membuat Widi menyepelekan pemain dari negara lainnya, Widi juga tetap mengatisipasi permainan dari negara-negara lainnya.

Untuk persiapannya sendiri, Widi mengaku sudah berjalan hingga 75-80% namun masih belum maksimal. Hal tersebut dikarenakan ketidakstabilan cuaca akhir-akhir ini yang membuat kondisi tubuhnya yang sedang tidak prima.

Selain karena kondisi tubuhnya yang kurang prima, terdapat beberapa kendala dan kecemasan juga diakui Widi tengah dialaminya menjelang turnamen. Salah satu kesulitannya adalah membaca gaya permainan para pemain dari negara lain.

“Biasanya kalau turnamen nasional atau di Indonesia kita udah tau nih lawan-lawannya, taktiknya, strateginya, formasinya dan jenis permainannya karena kita sering ketemu. Nah untuk kelas Asia Tenggara ini kan kita belum mengetahui pasti tiap negara punya ciri khas masing-masing permainan, punya gaya permainan sendiri, nah itu yang bikin sulitnya. Karena ini turnamen jadi kita harus siap, harus fokus, harus cepat lah intinya, harus cepat baca permainan lawan” tuturnya.

Selain itu ia juga kesulitan dalam menyamakan skill masing-masing pemain dalam timnya, “ kan ini turnamen di game PES tuh ada uniform overall setting jadi semua skill, ability tuh disama-ratakan, nah latihannya itu kalau online susah, soalnya ini kan mainnya offline, sedangkan teman-teman buat latihan tuh susah lagi pada di Bandung sedangkan saya kan di Cianjur, ya itu sih kendalanya untuk latihan, jadi seringnya latihan online dan itu pun terkendala kalau ada yang mau latihan, kalau tidak ada ya mungkin cuman latihan biasa aja, training kayak gitu lah, memperdalam skill-skill aja”, jelas Widi.

Salah satu kecemasan tersebar yang dirasakan Widi menjelang turnamen tersebut antara lain takut mengulang kesalahan yang pernah ia buat saat di Asian Games. Ia kahawatir gagal memenuhi ekspektasinya untuk memberikan yang tebaik bagi Indonesia. Ia bahkan mengaku trauma pada turnamen Asian Games 2 tahun lalu.

“Takut kaya asian games, ekspektasinya ingin memberikan maksimal tapi malah ngasih permainan buruk”, ujarnya.
Namun dibalik kecemasan dan kendala yang ia alami, Widi tetap optimis akan lolos dari babak kualifikasi karena menurutnya Indonesia masih cukup kuat di skala Asia Tenggara. Walaupun disaat yang bersamaan ia juga mengaku tidak terlalu percaya diri, namun ia tetap yakin akan dapat membayar hutang kemenangan yang seharusnya ia dapatkan pada Asian Games kemarin.

Salah satu hal yang ingin ia hindari pada turnamen besok adalah down mental. Berkaca pada permainannya di Asian Games, ia tidak mau mentalnya kembali jatuh di tengah permainan dan mempengaruhi permainannya.
“Pokoknya segimanapun kondisinya mental harus tetep terjaga, ambisi harus tetep terjaga dan konsentrasi harus tetep terjaga itu aja sih yang penting untuk besok”, tegasnya.

Selain hadiah dan gelar juara, Widi berharap melalui turnamen tersebut nama Indonesia akan lebih dikenal lagi dan ia juga berharap dapat membayar kesalahan yang pernah ia lakukan semasa Asian Games. Selain itu turnamen AESF E-Masters ini juga menjadi penting bagi karirnya sebagai pro-player karena akan ada banyak agen-agen salah satunya Toyota E-League Pro yang merupakan liga Thailand.

“Nah itu kalau sampai juara bisa jadi dapet kontrak dari Thailand untuk tanding di liga resmi. Jadi penting banget turnamen besok buat karir sebagai pro player tuh”, jelasnya.

Dengan masuknya tahun 2020, ia berharap prestasi dan perkembangan PES di Indonesia semakin meningkat dari tahun sebelumnya. Widi juga berharap agar sama seperti Thailand, Indonesia juga akan memiliki liga resmi sendiri untuk PES.

“Mungkin ada liga resminya di Indonesia, kan kalau di Thailand tuh ada liga resminya, semoga di tahun 2020 atau tahun berikutnya Indonesia ada, semoga seluruh Esports maju dan memberikan prestasi yang lebih baik lagi dari tahun sebelumnya untuk Indonesia, amin”, tutupnya.

 

(NXL)

Amanda Puspa

Author Amanda Puspa

More posts by Amanda Puspa

Leave a Reply