was successfully added to your cart.
CODMGamingInterview

Game Online dan Stigma Negatif Yang Mengelilinginya : Kecanduan Game Baik Atau Buruk?

By 21 November 2019 No Comments

Stigma negatif memang selama ini masih melekat pada game. Game sering kali dikaitkan dengan isu kesehatan fisik maupun psikis, seperti dapat menyebabkan gangguan kecemasan, obesitas, gangguan tidur, merusak kesehatan mata, memicu perilaku negatif seperti kekerasan atau tindakan kriminal.

Seperti yang kita tahu bahwa pada bulan Juni 2018 yang lalu WHO (World Health Organization) secara resmi telah menetapkan kecanduan game sebagai salah satu gangguan mental. Hal tersebut didasarkan pada dokumen klarifikasi penyakit intenasional ke-11 yakni International Classified Desease (ICD), gangguan ini dinamakan sebagai gaming disorder yakni perilaku bermain game dengan gigih dan berulang sehingga menyampingkan kepentingan hidup lainnya.

WHO mengumumkan bahwa kecanduan game dikategorikan sebagai salah satu gangguan mental. Hal tersebut dipublikasikan melalui akun Twitter resmi WHO (19 Juni 2018).

Dikutip dalam Kompas.com, kecanduan game bisa disebut sebagai penyakit bila memenuhi 3 hal di antaranya apabila seseorang tidak dapat mengendalikan kebiasaan bermain game, mulai memprioritaskan game di atas kegiatan lain dan akan terus bermain game meskipun terdapat konsekuensi negatif yang jelas terlihat. Di mana 3 kriteria ini harus terlihat selama setahun sebelum diagnosis dibuat. Permainan yang dimaksud dalam konteks ini mencakup berbagai jenis permainan yang dimainkan seorang diri maupun berkelompok, baik itu online maupun offline.

Namun tidak semua kegiatan bermain game dapat dikategorikan sebagai gangguan mental, karena menurut statement yang dikeluarkan WHO, bermain game disebut gangguan mental apabila permainan tersebut mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan dan pendidikan.

Selain sulit dikendalikan, menurut Hesti Anggraini, psikiater RSJD Amino Gandohutomo seperti yang dikutip dalam regionalkompas.com, seseorang bisa mengalami game addiction jika menghabiskan waktu 8 jam sehari bermain game.

Pandangan lain datang dari Killian Mulan, seorang periset dari Universitas Oxford, berdasarkan riset terhadap anak dan remaja usia 8-18 tahun, ia beragumentasi bahwa tidak ada masalah terhadap perilaku kecanduan game. Ia menambahkan bahwa sebagian pecandu game umumnya berhasil membagi waktu antara bermain game dan kehidupan sehari-hari.

Seperti yang dituliskan dalam Kompas.com ini, pandangan Mulan tersebut didukung oleh pengkategorian permainan game sebagai cabang dari Esports, karena sama halnya dengan olahraga pada umumnya, para atlet Esports diharuskan memiliki kondisi fisik bugar serta nutrisi yang cukup. Hal tersebut dikarenakan bermain game menguras stamina, mencurahlan pikirannya untuk menjalankan strategi bermain.

Menanggapi tiga statement resmi dari para ahli di atas, Muhammad Angga Gustiaji atau NXL Vizele, leader in game CODM, berargumen bahwa terlalu sering bermain game tidak bisa langsung dikatakan sebagai sebuah penyakit. Hal tersebut tergantung dari pribadi gamer itu sendiri apakah ia bisa tetap menjaga kesehatannya dan dapat membagi waktu antara bermain game dan kehidupan sehari-hari.

Muhammad Angga Gustiaji atau NXL Vizele (leader in game CODM NXL)

Angga sendiri mengaku bermain game 4 hingga 6 jam sehari dan maksimal 12 jam hanya pada saat mengejar top rank. Namun dengan durasi bermain tersebut, ia tidak setuju jika dikategorikan sebagai seorang pecandu game karena ia masih membatasi waktu bermainnya dengan aktivitas lain di luar game seperti mengurus pekerjaan dan berkumpul bersama teman-temannya.

“Kalau saya main game dirumah aja, kalau nongkrong sama temen yaudah nongkrong gitu. Kalau nongkrong sama temen main game sendiri, di mana-di mana main game itu baru kecanduan game namanya”, jelasnya.

Sebagai seorang atlet Esports, Angga memang dituntut untuk secara rutin berlatih, namun menurutnya jika sudah kecanduan juga tetap berdampak buruk bagi atlet Esports itu sendiri. Bermain game selama 4 jam sehari sudah cukup menurut Angga dan timnya, karena jika terlalu over hal tersebut justru membuat mereka stres.

“Buruk sih menurut saya, buruknya buruk bagi kesehatan juga sih, kaya mata gitu kan harus 12 jam spend time buat main game, itu kaya apa ya, percuma juga gitu. Bikin orang stres kalau main terus gitu kan. Bagi pro player juga bikin stres juga, ya bisa bikin orang stres. Kalau 4 jam bagi saya, bagi temen saya ya udah cukup buat pemanasan aim kaya strategi, push rank, segala macem itu udah cukup buat latian. Kalau lebih malah over, jadi kaya stres gitu aimnya juga jadi berantakan”, tutur Angga.

Sebagai seorang pro player Angga tidak menutup mata pada kenyataan bahwa game memang miliki dampak buruk bagi pemainnya. Ia mengaku pernah merasakan dampak negatif akibat terlalu sering bermain game, di antaranya sulit tidur dan pusing karena lupa makan dan kelelahan pada saat ia mengejar top rank global. Namun ia mengatasinya dengan membatasi waktu bermain untuk beristirahat dan meminum vitamin C setiap harinya. Ia pun mengaku selalu membawa vitamin setiap kali ia berlatih di NXL Esports Center.

“Ya atur waktu aja sih, kalau misalnya jam tidur, jam 12 malem tidur, yaudah tidur sampe jam 6 pagi, atau sampe jam 9 pagi. Tidur abis itu sarapan, kalau bisa olah raga ya olah raga, entar musti main lagi”, tambahnya.

Angga kemudian memberi saran bagi para gamer di luar sana agar lebih dapat membagi waktu antara bermain game dengan kegiatan lain, serta tidak terlalu memforsir durasi bermain mereka. Hal tersebut perlu dilakukan agar gamer tidak merasakan dampak negatif yang dihasilkan oleh game itu sendiri.

“Ya main game buat happy aja lah, kalau gamau jadi bener-bener pro player yaudah main game santai aja, ngepush juga sebisanyalah jangan nabrak sama aktivitas luar. Ya gitu sih kalau jadi pro player harus bener-bener latihan, push rank juga supaya bisa dilirik lah sama tim-tim Esports”, tutupnya.

 

(NXL/AMANDA P).

Amanda Puspa

Author Amanda Puspa

More posts by Amanda Puspa

Leave a Reply